Review Komik Lookism. Lookism, webtoon karya Park Tae-joon yang sudah berjalan lebih dari 500 episode sejak 2014, masih kokoh bertengger di puncak popularitas manhwa aksi-sekolah hingga akhir 2025. Cerita yang diawali premis sederhana — seorang remaja gemuk dan pendiam tiba-tiba bisa berpindah ke tubuh tampan saat tidur — kini telah berevolusi jadi drama kriminal berlapis dengan ratusan karakter, organisasi bawah tanah, dan pertarungan level tinggi. Apa yang membuat Lookism tetap segar setelah lebih dari satu dekade? Inilah ulasan singkat tapi jujur dari perspektif pembaca setia. REVIEW FILM
Plot yang Terus Berkembang Tanpa Kehilangan Identitas: Review Komik Lookism
Awalnya Lookism terasa seperti kritik sosial biasa tentang diskriminasi penampilan. Namun seiring arc demi arc — mulai dari Fashion Department, God Dog, Hostel, Workers, hingga arc Hunt for Big Deal dan Cheonliang yang sedang berlangsung — cerita bertransformasi jadi thriller aksi dengan taruhan nyawa. Penggemar suka karena alur tidak pernah stagnan: setiap kali terasa membosankan, muncul karakter baru dengan backstory mendalam atau plot twist yang mengguncang. Kekurangannya, bagi sebagian orang, cerita kadang terlalu panjang dan berbelit, terutama saat memperkenalkan puluhan karakter baru dalam satu arc saja.
Karakter yang Hidup dan Relatabel: Review Komik Lookism
Daniel Park (baik versi gemuk maupun versi tampan) tetap jadi protagonis yang mudah disukai karena perkembangannya realistis: dari korban bullying menjadi pemimpin yang peduli teman. Namun yang benar-benar mencuri hati adalah karakter pendukung seperti Vasco yang polos tapi kuat, Zack Lee yang tsundere, Jay yang misterius, hingga villain kompleks seperti DG, Gun, dan Tom Lee. Hampir semua karakter punya alasan kuat di balik tindakan mereka, membuat pembaca sulit membenci siapa pun sepenuhnya. Ini salah satu kekuatan terbesar Lookism — jarang ada karakter yang terasa “filler” belaka.
Aksi dan Seni yang Semakin Matang
Jika dulu adegan tarung masih standar, kini koreografi pertarungan Lookism termasuk yang terbaik di dunia webtoon. Gerakan fluid, paneling dinamis, dan detail anatomi otot membuat setiap chapter fight terasa seperti menonton anime berkualitas tinggi. Efek “UI System”, “Copy Technique”, hingga “Perfect Body” juga dieksekusi dengan visual yang memukau. Penggemar lama pasti setuju: semakin lama, semakin indah gambarnya, terutama setelah masuk arc-arc besar seperti Workers Affiliates atau Cheonliang.
Kesimpulan
Lookism bukan lagi sekadar komik tentang “cantik itu penting”. Ia sudah jadi saga epik tentang persahabatan, pengkhianatan, balas dendam, dan pencarian jati diri di tengah dunia yang kejam. Meski kadang terasa terlalu panjang dan kompleks bagi pembaca baru, kualitas cerita, karakter, serta ilustrasi yang terus naik membuatnya sulit ditinggalkan. Bagi yang suka aksi intens dengan drama emosional dalam dan kritik sosial tajam, Lookism tetap jadi salah satu webtoon terbaik yang pernah ada. Jika belum baca, mulai saja dari chapter satu — tapi siapkan waktu berbulan-bulan, karena sekali masuk, susah keluar.