Review Komik Baek XX. Pada 14 November 2025, saat musim gugur membawa hembusan segar ke dunia komik digital, manhwa “Baek XX” kembali mencuri perhatian pembaca global dengan chapter terbarunya yang penuh ketegangan. Karya terbaru dari Park Tae Joon ini, yang menggabungkan elemen gangster, intrik agen rahasia, dan politik bawah tanah, telah mencapai lebih dari 50 chapter sejak debutnya awal tahun lalu. Bukan sekadar cerita aksi biasa, “Baek XX” menawarkan narasi saudara kembar yang saling bertukar identitas, menciptakan konflik moral yang dalam di tengah dunia kriminal Seoul yang kejam. Di tengah lonjakan popularitas manhwa bertema dewasa tahun ini, seri ini menonjol karena pendekatannya yang gritty dan tak terduga, membuat pembaca ketagihan meski kadang menuai kritik atas pacing-nya. Artikel ini sajikan review mendalam berdasarkan perkembangan terkini, menyoroti kekuatan dan celah cerita agar Anda bisa memutuskan apakah layak dimasukkan ke reading list akhir tahun. Siapkah menyelami bayang-bayang geng dan spionase yang gelap ini? BERITA TERKINI
Plot yang Memikat: Intrik Saudara dan Dunia Bawah Tanah: Review Komik Baek XX
Plot “Baek XX” berpusat pada duo saudara kembar, Baek Yisu dan Baek Dogyeong, yang hidup di dua sisi berlawanan koin: satu sebagai agen elit Human Intelligence Division (HID), yang lain sebagai bos sindikat kriminal terbesar di Seoul. Ketika Dogyeong tewas dalam operasi rahasia, Yisu terpaksa mengambil alih identitas saudaranya untuk menyusup ke dalam organisasi, sambil menjaga rahasia dari rekan-rekan geng yang curiga. Narasi ini membangun ketegangan melalui serangkaian pengkhianatan, aliansi rapuh, dan pertarungan kekuasaan yang melibatkan politik korupsi hingga konflik antar-geng.
Salah satu kekuatan utama plot adalah bagaimana ia mengeksplorasi tema identitas ganda tanpa jatuh ke klise. Setiap chapter baru, seperti yang dirilis pekan ini, memperluas jaringan cerita dengan subplot tentang agen korup dan rival geng dari wilayah pinggiran, menjaga momentum meski kadang terasa lambat di arc investigasi. Fakta menarik: seri ini terinspirasi dari kasus spionase nyata di Korea Selatan pasca-perang, di mana agen sering beroperasi di garis abu-abu moral. Namun, celahnya ada di pacing awal—beberapa pembaca merasa chapter 1-10 terlalu fokus pada backstory, membuat hook kurang tajam dibanding karya pendahulunya seperti “Lookism”. Meski begitu, hingga chapter 52, plot berhasil membangun klimaks yang memuaskan, dengan twist tentang loyalitas saudara yang membuat pembaca bertanya: apakah Yisu bisa keluar tanpa kehilangan dirinya sendiri? Secara keseluruhan, plot ini seperti thriller gangster ala “The Departed”, tapi dengan sentuhan Korea yang lebih emosional, cocok bagi penggemar narasi berlapis.
Karakter yang Kompleks: Dari Agen Dingin hingga Bos Karismatik: Review Komik Baek XX
Karakter di “Baek XX” adalah jantung yang membuat seri ini bernapas, dengan Baek Yisu sebagai protagonis utama yang evolusinya paling menonjol. Awalnya digambarkan sebagai agen dingin yang perfeksionis, Yisu berubah menjadi sosok ambigu saat ia meniru Dogyeong—mengadopsi sikap kasar, tato palsu, dan bahasa jalanan yang membuatnya hampir lupa identitas asli. Penampilan fisik kembar ini, dengan wajah tajam dan tatapan menusuk, menjadi metafor sempurna untuk dualitasnya, sementara dialog internalnya menyoroti konflik batin antara tugas negara dan ikatan darah.
Sisi pendukung tak kalah kuat: rekan agen HID seperti detektif wanita tangguh yang curiga pada Yisu, atau letnan geng yang setia tapi penuh rahasia, menambah kedalaman melalui interaksi yang autentik. Dogyeong, meski mati di awal, tetap hidup melalui flashback yang mengungkap masa kecil mereka di panti asuhan, menjelaskan mengapa Yisu begitu terikat. Kritik muncul pada karakter sampingan yang kadang terasa stereotip, seperti rival geng yang haus kekuasaan tanpa backstory mendalam, membuat mereka kurang relatable di arc tengah. Namun, perkembangan terkini di chapter 50-an menunjukkan PTJ mulai memperkaya mereka, seperti arc redemption untuk salah satu anggota sindikat. Karakter-karakter ini tak hanya mendorong plot, tapi juga memicu diskusi etis—apakah pengorbanan pribadi demi keadilan benar-benar worth it? Di 2025, di mana manhwa dewasa semakin menekankan psikologi, “Baek XX” unggul dalam menciptakan tokoh yang manusiawi, meski tak sempurna, membuat pembaca ikut merasakan beban Yisu.
Gaya Seni dan Aksi: Visual Gritty yang Menghipnotis
Gaya seni “Baek XX” adalah perpaduan khas PTJ: garis tebal yang dinamis untuk aksi, dengan panel lebar yang menangkap kekacauan pertarungan geng di gang sempit Seoul. Latar belakang urban yang detail—dari gedung pencakar langit berkilau hingga pasar malam kumuh—memberi rasa autentik, sementara efek bayangan gelap menekankan tema noir. Aksi digambar dengan koreografi brutal tapi realistis: tinju menghantam dengan impact lines yang membuat halaman terasa hidup, tanpa bergantung pada slow-motion berlebih.
Salah satu highlight adalah transisi identitas Yisu, di mana ekspresi wajahnya berubah subtil dari tegang agen ke smirk bos geng, didukung shading halus yang menonjolkan tatonya. Namun, di chapter awal, seni kadang terasa kasar dibanding seri PTJ sebelumnya, dengan proporsi tubuh yang tak konsisten saat aksi cepat. Perkembangan di update 2025 menunjukkan peningkatan, terutama di panel splash untuk klimaks ganda, di mana ledakan dan darah digambarkan dengan visceral tapi tak berlebihan. Sound effect minimalis—seperti “crack” untuk patah tulang—memperkuat immersion tanpa mengganggu alur. Bagi penggemar visual gritty seperti di “Viral Hit”, seni ini menghipnotis, meski pembaca kasual mungkin butuh adaptasi dari gaya yang lebih gelap. Secara keseluruhan, seni tak hanya mendukung cerita, tapi juga memperkuat emosi, membuat “Baek XX” layak dibaca ulang untuk apresiasi detailnya.
Kesimpulan
“Baek XX” di November 2025 membuktikan diri sebagai manhwa underrated yang layak naik daun, dengan plot intrik saudara yang memikat, karakter kompleks yang bikin empati, dan seni aksi gritty yang memukau. Meski punya celah seperti pacing lambat dan subplot sampingan yang kurang dalam, kekuatannya dalam eksplorasi moral dan visual dinamis membuatnya unggul di genre gangster-spionase. Seri ini bukan untuk yang mencari cerita ringan, tapi bagi pembaca yang haus thriller dewasa, ini seperti teman setia di malam dingin. Dengan chapter mendatang yang berjanji eskalasi politik, “Baek XX” berpotensi jadi masterpiece PTJ selanjutnya. Coba mulai dari chapter 1 akhir pekan ini, dan biarkan dualitas Baek menarik Anda ke dalamnya. Siapa tahu, Anda akan menemukan bayangan diri sendiri di antara geng dan agen itu. Selamat membaca, dan semoga twist selanjutnya tak terlalu menyakitkan!