Review Komik Shokugeki no Soma. Komik Shokugeki no Soma tetap menjadi salah satu karya paling ikonik dalam genre kuliner dan shonen. Ditulis oleh Yūto Tsukuda dengan ilustrasi Shun Saeki, serial ini mengikuti perjalanan Sōma Yukihira, seorang anak koki jalanan yang berbakat, memasuki akademi kuliner elit Tōtsuki. Dengan lebih dari 36 volume yang tamat pada 2019, komik ini berhasil menggabungkan drama kompetisi, humor absurd, dan deskripsi masakan yang sangat detail hingga membuat pembaca lapar setiap bab. Meski sudah beberapa tahun berlalu sejak akhir cerita, pengaruhnya masih terasa kuat di kalangan penggemar manga—terutama karena cara uniknya menyajikan dunia masak sebagai arena pertarungan sengit layaknya olahraga atau bela diri. TIPS MASAK
Latar Belakang dan Konsep Cerita: Review Komik Shokugeki no Soma
Shokugeki no Soma berpusat pada institusi Tōtsuki Saryō Ryōri Gakuen, sekolah kuliner paling bergengsi di Jepang di mana hanya satu persen siswa yang lulus. Di sini, pertarungan masak bernama shokugeki menjadi cara resmi menyelesaikan konflik—dengan taruhan yang bisa mencapai segalanya, termasuk hak kepemilikan restoran atau bahkan hak keluar sekolah. Konsep ini langsung memberikan energi kompetitif tinggi sejak bab pertama. Sōma, yang dibesarkan di restoran kecil milik ayahnya, masuk dengan sikap santai dan percaya diri, tapi segera dihadapkan pada standar ekstrem dan rival-rival berbakat. Cerita berkembang dari pertarungan kecil di kelas hingga turnamen besar seperti Autumn Election dan BLUE, sambil mengeksplorasi latar belakang karakter dan rahasia dunia kuliner elit. Pendekatan ini membuat setiap chapter terasa seperti episode pertandingan olahraga—penuh build-up, strategi, dan klimaks yang memuaskan.
Karakter dan Perkembangan yang Menarik: Review Komik Shokugeki no Soma
Sōma Yukihira adalah protagonis yang langsung menarik simpati—cerdas, kreatif, tapi tidak sombong meski punya bakat alami. Ia tidak pernah menang dengan mudah; setiap kemenangan diraih melalui eksperimen berani dan pemahaman mendalam tentang rasa. Rival utamanya, Erina Nakiri, mulai sebagai gadis arogan dengan lidah dewa (God’s Tongue), tapi perlahan menunjukkan sisi rentan dan pertumbuhan emosional yang signifikan. Megumi Tadokoro membawa kehangatan pedesaan dan ketulusan, sementara Takumi Aldini dan saudaranya Isami menambah dinamika persaingan Italia yang penuh gaya. Alice Nakiri dan Ryo Kurokiba memberikan variasi karakter yang eksentrik, sementara mentor seperti Gin Dojima dan Sekai Saiba memperkaya dunia Tōtsuki. Setiap karakter punya arc yang jelas—dari kegagalan hingga penemuan identitas kuliner mereka—sehingga pembaca merasa terlibat dengan perjalanan masing-masing.
Gaya Seni dan Penyajian Masakan yang Unik
Ilustrasi Shun Saeki menjadi salah satu daya tarik utama komik ini. Setiap hidangan digambar dengan detail ekstrem—tekstur daging, kilau saus, uap panas, hingga ekspresi wajah saat mencicipi. Reaksi “foodgasm” yang berlebihan—dengan visual dramatis seperti pakaian robek atau ledakan imajinasi—menjadi ciri khas yang kontroversial sekaligus menghibur. Meski kadang terasa fan-service, teknik ini berhasil membuat pembaca benar-benar membayangkan rasa hidangan tersebut. Panel aksi masak dibuat dinamis layaknya pertarungan shonen—dengan close-up pisau, api yang membara, dan gerakan cepat—sehingga proses memasak terasa seperti duel sengit. Desain karakter juga kuat: Sōma dengan rambut merah dan seragam kusut, Erina dengan aura bangsawan, dan berbagai koki tamu yang punya gaya visual unik. Gaya seni ini membuat setiap chapter terasa hidup dan menggugah selera.
Kesimpulan
Shokugeki no Soma berhasil menjadi salah satu komik paling memorable di genre kuliner karena mampu mengubah dunia masak menjadi arena pertarungan yang penuh gairah dan drama. Dengan konsep shokugeki yang inovatif, karakter yang berkembang baik, dan seni masakan yang detail luar biasa, serial ini memberikan hiburan sekaligus inspirasi kuliner yang tak tertandingi. Meski bagian akhir cerita mendapat kritik karena terburu-buru, keseluruhan perjalanan tetap kuat dan penuh momen ikonik. Komik ini tidak hanya tentang siapa yang memasak lebih enak, melainkan tentang menemukan passion, menghadapi kegagalan, dan membuktikan diri di panggung terbesar. Bagi penggemar shonen yang suka tema kompetisi atau siapa saja yang penasaran dengan dunia kuliner elit, Shokugeki no Soma tetap layak dibaca ulang—sebuah karya yang membuat pembaca lapar sekaligus terharu. Komik ini membuktikan bahwa masakan bisa menjadi pertarungan paling sengit dan paling indah sekaligus.