review-komik-fruits-basket

Review Komik Fruits Basket

Review Komik Fruits Basket. Fruits Basket adalah salah satu karya manga paling berpengaruh dan dicintai di dunia shoujo sepanjang masa. Dibuat oleh Natsuki Takaya dan pertama kali terbit pada tahun 1998, seri ini selesai dalam 23 volume pada 2007 dan kemudian mendapatkan remake yang lebih lengkap pada 2016 hingga 2020. Cerita mengikuti Tohru Honda, gadis SMA biasa yang baik hati, yang secara tak sengaja tinggal bersama keluarga Sohma—keluarga yang dikutuk oleh roh zodiak Cina sehingga anggotanya berubah menjadi hewan ketika dipeluk oleh lawan jenis. Di balik premis romantis dan lucu itu, Fruits Basket adalah kisah mendalam tentang trauma, penerimaan diri, pengampunan, dan penyembuhan luka keluarga. Hampir tiga dekade setelah debut, komik ini masih sering dibaca ulang dan dibahas karena kemampuannya menyentuh hati pembaca dari berbagai usia dan latar belakang. INFO TOGEL

Karakter yang Sangat Manusiawi dan Berkembang: Review Komik Fruits Basket

Salah satu kekuatan terbesar Fruits Basket adalah karakter-karakternya yang terasa hidup dan kompleks. Tohru Honda bukan tipe heroine shoujo yang sempurna atau lemah lembut pasif. Ia baik hati, tapi juga punya kekuatan batin yang luar biasa—ia memilih untuk memaafkan dan menerima orang lain meski dirinya sendiri sering terluka. Perkembangannya dari gadis yang selalu memendam perasaan menjadi seseorang yang belajar menyuarakan keinginan sendiri terasa sangat alami dan memuaskan.

Keluarga Sohma, terutama Yuki, Kyo, dan Shigure, adalah pusat cerita. Yuki yang tampak sempurna ternyata menyimpan rasa rendah diri dan trauma masa kecil yang dalam. Kyo, yang kasar dan penuh amarah, sebenarnya menyembunyikan rasa takut ditolak dan rasa bersalah yang besar. Shigure, yang terlihat santai dan licik, ternyata punya motif dan luka yang jauh lebih kompleks. Bahkan karakter pendukung seperti Momiji, Hatsuharu, atau Kagura punya latar belakang yang membuat pembaca ikut merasakan empati. Takaya berhasil membuat hampir setiap anggota keluarga Sohma punya alasan untuk berperilaku seperti itu—bukan karena mereka jahat, melainkan karena mereka terluka.

Tema Trauma, Pengampunan, dan Penerimaan Diri: Review Komik Fruits Basket

Fruits Basket bukan sekadar cerita romansa atau komedi slice-of-life. Di lapisan yang lebih dalam, ia adalah eksplorasi tentang trauma keluarga, siklus kekerasan, dan bagaimana orang bisa keluar dari pola destruktif. Kutukan zodiak bukan hanya gimmick—ia melambangkan beban yang diturunkan dari generasi ke generasi, baik secara emosional maupun psikologis. Akane Sohma (ibu Yuki) yang abusive, Ren Sohma yang manipulatif, atau Akito yang penuh luka dan amarah adalah contoh bagaimana trauma bisa menciptakan lingkaran setan.

Yang membuat komik ini luar biasa adalah cara ia menangani pengampunan dan penerimaan diri. Tohru tidak “menyembuhkan” semua orang dengan kebaikan semata; ia hanya hadir, mendengarkan, dan menerima tanpa menghakimi. Proses penyembuhan setiap karakter terasa lambat dan realistis—ada kemunduran, ada kemarahan, ada air mata, tapi juga ada langkah maju kecil yang sangat berarti. Pesan bahwa “kamu tidak perlu sempurna untuk dicintai” dan “kamu boleh marah atas apa yang terjadi padamu” terasa sangat kuat dan menyembuhkan bagi banyak pembaca.

Dampak Budaya dan Relevansi Saat Ini

Fruits Basket termasuk salah satu manga yang paling banyak dibicarakan ulang di era modern, terutama setelah remake anime yang tayang 2019–2021 membawanya ke generasi baru. Banyak pembaca muda menemukan bahwa tema trauma keluarga, kesehatan mental, dan penerimaan diri masih sangat relevan—bahkan lebih dari dua dekade setelah publikasi asli. Lagu tema seperti “Uma Toki” atau “Chotto” sering muncul di playlist emosional banyak orang karena mengingatkan pada perasaan yang sama yang dibangun komik ini.

Komik ini juga sering disebut sebagai salah satu shoujo yang paling “dewasa” karena tidak menghindari topik berat seperti pelecehan, depresi, dan bunuh diri. Namun Takaya menyajikannya dengan cara yang penuh empati, tanpa pernah terasa eksploitatif. Ending yang bittersweet—penuh harapan tapi tetap realistis—membuat banyak pembaca merasa puas sekaligus sedih, karena cerita ini terasa seperti perpisahan yang manis dengan karakter-karakter yang sudah seperti teman.

Kesimpulan

Fruits Basket adalah komik yang luar biasa karena kemampuannya menyatukan cerita romansa, komedi, drama keluarga, dan eksplorasi trauma dalam satu paket yang harmonis. Natsuki Takaya berhasil menciptakan dunia dan karakter yang terasa hidup, penuh luka tapi juga penuh harapan. Ia mengajarkan bahwa pengampunan—baik terhadap orang lain maupun diri sendiri—adalah proses panjang yang layak diperjuangkan. Di tengah banyak manga shoujo yang fokus pada romansa remaja, Fruits Basket memilih bicara tentang penyembuhan, keluarga yang rusak, dan cinta yang tidak sempurna tapi tetap tulus. Hampir 25 tahun setelah debut, komik ini masih mampu membuat pembaca baru menangis, tersenyum, dan merasa lebih ringan setelah membaca. Fruits Basket bukan sekadar cerita tentang kutukan zodiak—ia adalah pengingat lembut bahwa setiap orang, meski terluka, tetap layak dicintai apa adanya.

BACA SELENGKAPNYA DI..

More From Author

alur-cerita-the-exiled-hero-yang-penuh-pengkhianatan

Alur Cerita The Exiled Hero yang Penuh Pengkhianatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories